Welcome


Jumat, 05 Desember 2014

My Self

My Self

Seorang anak yang lahir di Rantau Prapat tepatnya pada hari kamis, 28 April 1994, hari yang penuh dengan kebahagianan bagi seorang anak ke-2 dari dua bersaudara, namun kini menjadi anak kedua dari delapan bersaudara, tepatnya pada 14 Desember 2008, anak tersebut adalah “aku” (Sebut saja Angel).
Lahir ditengah-tengah keluarga yang sederhana adalah sebuah makna yang berarti langkah awal dari sebuah perjuangan yang tidak mudah. Hidup memang penuh warna baik cerah maupun gelap namun bagi seorang anak mungkin terlalu banyak suatu kegelapan. Dengan memiliki ke-dua orang tua yang sempurna  namun terbatas oleh ilmu, pengetahuan dan kemampuan menggambarkan masa depan yang belum dapat dilukiskan oleh seorang anak berusia 7 tahun.
Kini anak tersebut bukan lagi anak berusia 7 tahun namun 21 tahun, awal masa kedewasaan. Yang telah mampu menggambarkan sebuah lukisan masa depan walau terasa kabur. Dan kini anak tersebut, terduduk diam membayangkan semua kisah yang mamapu dijangkau dan yang masih tersimpan di memorinya semenjak ia mampu mengenal subuah makna dari sebuah peristiwa.
Semenjak berusia 6 tahun lebih aku akan memasuki sekolah tingkat dasar, namun karena suatu alasan yang hingga saat ini aku tak tahu apa, aku terpaksa harus tinggal didepan ke-dua orang tua dari ayahku (kakek dan nenekku) dan memulai sekolah dasar tanpa didampingi oleh ke-dua orang tuaku, sedih, sudah pasti!.
Hari pertama aku sekolah, aku todak mengerti satupun dari makna yang disampaikan oleh guru dan aku juga tidak mengerti akan tujuan “mengapa aku harus ketempat itu (sekolah)?”. Aku tidak ingat banyak tentang hal itu lagi, yang ku tahu ialah bahwa saat itu aku tidak dapat bertahan lama tinggal dan sekolah didepan kakek dan nenekku dan akhirnya aku dipindahkan kesekolah yang dekat dengan rumah kakek dan nenek dari Ibuku dan akkupun tinggal dengan mereka, dan aku pun tidak bertahan lama akan hal itu. Awalnya aku tak tahu alasan mengapa aku tidak dapat bertahan, namun suatu hari naluriku menjawab suatu kejujuran, yang saat itu akupun tak mampu memungkirinya, aku menangis ketika tak ada sorangpun dirumah, ada rasa sakit dan sesak yang kurasakan ketika aku bernafas, sambil menangis aku menjawab naluri itu “ya, aku merindukan kedua orang tuaku”. Saat itu aku hanya mampu membayangkan kedua  orang tuaku datang dan berada didekatku, aku hanya mampu menangis dan memikirkanya hingga aku tertidur.
Ke-esokan harinya aku tidak mampu lagi memendam rasa itu, aku ingin bersama kedua orang tuaku, kakakku dan adikku, aku menagis terang-terangan didepan setiap orang yang meilahat, hingga akhirnya kakek dan nenekkupun mengerti akan makna dari tangisanku, mereka tahu bahwa aku merindukan keluargaku dan sudah tak mampu lagi untuk terus bertahan walau hanya sebentar. Beberapa hari kemudian, mungkin kakek dan nenekku menghubungi orang tuaku dan memberitahukan apa yang terjadi padaku, dan akhirnya aku diantar ketempat orang tuaku berada, yang pada saat itu orang tuaku tinggal di sebuah pedesaan di Pekan Baru, Riau.
Aku tiba dirumahku, rumah kedua orang tuaku, sungguh saat itu aku benar-benar bahagia namun hatiku masih terasa sakit sakin merindukan keluargaku, aku benar-benar menangis sejadi-jadinya, mungkin orang tuaku bingnung namun pada akhirya mereka mengerti. Saat itu aku tidak benar-benar ingat lagi bagai mana kejadian persisnya ketika aku tiba dirumah, entah aku dipeluk atau tidak oleh keluargaku akupun tak ingat, tapi yang pasto saat itu aku benar-benar merasa bahagia ditambah lagi ternyata aku sudah punya adik dua, aku benar-benar bahagai karna aku tahu aku pasti akan senang bisa bermain dengan kakak dan kedua adikku dan juga tetangga  sebelahku ternyata juga seumuranku.
Akhirnya aku didaftarkan kembali ke-sekolah dasar yang baru, saat itu aku menjadi sama-sama kelas 1 dengan kakakku, karena kakakku ternyata belum sekolah saat aku masih di depan kakek dan nenekku, karena saat itu sekolah dimana aku dan kakaku mendaftar ternyata sangat jauh, sehingga kakakku sulit untuk bepergian kesekolah karena hanya seorang diri.










Kadang aku merasa kesal, kenapa semua orang terlalu bahagia jika melihat kesalahan ataupun kelemahan ku.
mengesalkan... ingin aq menangis, tapi tak bisa.
biarlah semua berlalu sesuai yang kalin harapkan.
kapan kalian akan mengerti akan perasaan ku??????????/